Sabtu, 27 Desember 2025

Menjadi Murid yang Dikasihi: Belajar Setia dan Intim dari Santo Yohanes Rasul


Stefan Sikone 



Hari ini, tanggal 27 Desember, tepat di tengah sukacita Oktaf Natal, Gereja mengajak kita mengalihkan pandangan sejenak dari palungan bayi Yesus menuju sosok yang hari ini kita kenal sebagai salah satu penulis Injil.

Kita merayakan Pesta Santo Yohanes Rasul dan Penginjil.

Yohanes adalah figur yang unik. Ia dipanggil Tuhan saat masih remaja—yang termuda di antara para Rasul.

Namun, usia muda tidak menghalanginya untuk memiliki kedewasaan iman yang luar biasa.

Julukan abadi yang melekat padanya, "Murid yang Dikasihi" (The Beloved Disciple), bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan sebuah undangan bagi kita semua untuk menyelami apa artinya menjadi sahabat karib Tuhan.


1. Saksi Mata Keilahian dan Kemanusiaan

Yohanes bukan sekadar pengikut biasa. Bersama Petrus dan Yakobus, ia masuk dalam "lingkaran terdalam" Yesus.

Yohanes hadir dalam momen-momen paling krusial dan intim: ia melihat kuasa Kristus membangkitkan putri Yairus, ia terpana melihat kemuliaan ilahi saat Transfigurasi di gunung, namun ia juga menyaksikan peluh darah Yesus di Taman Getsemani.

Pengalaman personal inilah yang membuat Injil yang ditulisnya berbeda dari Matius, Markus, dan Lukas.

Yohanes menulis dengan tinta pengalaman batin yang mendalam, menekankan Keilahian Kristus (Divinity) dengan detail yang tidak dimiliki penginjil lain. Ia melihat apa yang orang lain luput, dan ia menuliskannya agar kita percaya.


2. Kesetiaan di Bawah Kaki Salib

Ujian cinta terbesar adalah penderitaan. Ketika para rasul lain lari bersembunyi karena ketakutan saat Yesus ditangkap, Yohanes—si "anak muda" ini—justru menunjukkan keberanian yang lahir dari kasih.

Ia setia mendampingi Yesus mulai dari awal pelayanan hingga detik-detik paling menyakitkan di Golgota.

Yohanes berdiri tegak di samping Maria di bawah kaki salib. Kehadirannya di sana membuahkan sebuah "wasiat agung". Yesus, dalam nafas terakhir-Nya, menyerahkan Ibu-Nya kepada Yohanes: "Inilah ibumu," dan menyerahkan Yohanes kepada Ibu-Nya.

Gereja melihat ini bukan sekadar kewajiban sosial merawat janda, melainkan mandat supranatural: Maria dipercayakan menjadi Ibu bagi semua murid Kristus sepanjang masa.


3. Semangat Kaum Muda yang Membara

Semangat muda Yohanes mengajarkan kita bahwa kekudusan tidak menunggu tua.

Zeal atau semangatnya yang berapi-api bagi iman, dipadukan dengan kasih yang lembut kepada Tuhan, menjadikannya penulis yang produktif (Injil Yohanes, tiga Surat Yohanes, dan Kitab Wahyu).

Ia adalah satu-satunya Rasul yang tidak mati sebagai martir darah, tetapi ia adalah "martir cinta" yang bertahan hidup paling lama untuk menjadi saksi hidup bagi Gereja perdana.


Kesimpulan

Merayakan Pesta Santo Yohanes Rasul berarti merayakan keintiman dengan Tuhan.

Santo Yohanes mengajarkan kita bahwa untuk menjadi "murid yang dikasihi", kita tidak perlu menjadi yang paling tua atau paling pintar.

Kita hanya perlu memiliki hati yang setia: setia mendengarkan detak jantung Tuhan dalam doa, setia berdiri memanggul salib saat masa sulit, dan setia menerima Bunda Maria sebagai ibu kita.

Seperti Yohanes, semoga kita pun berani menyerahkan masa muda, masa tua, dan seluruh hidup kita untuk menjadi sahabat dekat Yesus.

Santo Yohanes Rasul, doakanlah kami.***

Sumber: ewtnvatican.com


0 komentar:

Posting Komentar