Injil Markus 3:31-35
Dalam perikop Injil tersebut di atas, kita disuguhi sebuah adegan yang, jika dibaca sepintas, mungkin terasa agak "kasar" atau mengejutkan.
Ibu Yesus (Maria) dan saudara-saudara-Nya datang, berdiri di luar, dan menyuruh orang memanggil Dia. Namun, jawaban Yesus justru terdengar seolah-olah Ia mengabaikan mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?"
Apakah Yesus sedang mendurhakai ibunda-Nya? Apakah Ia sedang menolak keluarga-Nya sendiri? Tentu saja tidak.
Sebagai seorang yang taat pada Hukum Taurat, Yesus pasti menghormati orang tua-Nya. Namun, dalam momen ini, Yesus sedang mengajarkan sebuah kebenaran teologis yang radikal tentang Hakekat Keluarga Allah.
Ada tiga poin permenungan yang bisa kita petik hari ini:
1. Dari "Darah" Menuju "Iman"
Di dunia Yahudi kuno (dan juga budaya kita), ikatan darah adalah segalanya.
Identitas seseorang ditentukan oleh klan atau marganya. Namun, Yesus meruntuhkan tembok eksklusivitas itu.
Ia menunjuk kepada orang-orang yang duduk mengelilingi-Nya—para murid, orang berdosa yang bertobat, orang sederhana yang haus akan Firman—dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!"
Yesus sedang memperluas definisi keluarga. Keluarga Kerajaan Surga tidak lagi diikat oleh genetika atau garis keturunan biologis, melainkan diikat oleh kesatuan roh dalam ketaatan kepada Bapa.
Kita, yang dibaptis dalam nama-Nya, diangkat menjadi saudara dan saudari-Nya. Ini adalah privilese yang luar biasa; kita bukan orang asing bagi Allah, kita adalah keluarga.
2. Syarat Menjadi Kerabat: Melakukan Kehendak Allah
Yesus memberikan satu kriteria utama untuk masuk dalam lingkaran keluarga ini: "Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."
Hal ini adalah undangan sekaligus tantangan. Menjadi Kristen (red,
Katolik) bukan sekadar memiliki surat baptis atau rajin ke gereja secara rutinitas.
Menjadi kerabat Yesus berarti hidup dalam ketaatan. Apakah kita mendengarkan Sabda-Nya? Dan lebih dari itu, apakah kita melakukannya dalam hidup sehari-hari?
Di sinilah peran Bunda Maria menjadi sangat relevan. Yesus tidak sedang mengecilkan peran Maria. Justru sebaliknya, Ia sedang memuji Maria secara tersirat.
Siapakah manusia yang paling sempurna melakukan kehendak Allah kalau bukan Maria? Ketika ia berkata "Fiat Voluntas Tua" (Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu), Maria telah menjadi murid yang pertama dan terutama.
Santo Agustinus pernah berkata, "Maria lebih diberkati karena menerima iman akan Kristus daripada karena mengandung daging Kristus."
Jadi, ketika kita melakukan kehendak Allah, kita sedang meneladani Bunda Maria.
3. Posisi Kita: "Di Luar" atau "Di Dalam"?
Perhatikan detail kecil dalam Injil tadi: keluarga fisik Yesus berdiri "di luar" (ay. 31), sementara orang banyak duduk mengelilingi Yesus "di dalam".
Hari ini Tuhan mengundang kita untuk tidak hanya berdiri "di luar"—hanya menjadi penonton, pengagum, atau orang Kristen KTP.
Ia mengundang kita masuk ke "dalam"—duduk di kaki-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan menjalin relasi personal yang intim.
Penutup
Di tengah kesibukan dunia yang sering membuat kita merasa sendirian atau terasing, ingatlah bahwa kita memiliki keluarga. Yesus menyebut kita saudara-Nya. Gereja adalah rumah kita.
Mari kita bertanya pada diri sendiri hari ini:
Sudahkah aku berusaha mencari tahu apa kehendak Allah bagiku hari ini?
Apakah tindakanku di tempat kerja, di rumah, atau di masyarakat mencerminkan bahwa aku adalah kerabat Yesus?
Semoga Roh Kudus memampukan kita untuk selalu berkata "Ya" pada kehendak Bapa, sehingga kita layak disebut sebagai ibu, saudara, dan saudari Kristus.
Doa:
Ya Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah mengangkat kami yang hina ini menjadi anggota keluarga-Mu.
Ampunilah aku jika seringkali lebih mengutamakan kehendak kami sendiri daripada kehendak Bapa.
Ajarilah aku untuk setia seperti Bunda Maria, yang menyimpan segala perkara dalam hati dan melaksanakannya dengan tulus. Amin.***














