Di dalam tembok dingin penjara Meksiko, pada subuh tanggal 23 November 1927, waktu terasa berhenti. Di situlah, Pastor Miguel Pro—seorang pria yang dituduh melawan rezim tanpa bukti—sedang bersiap untuk perjalanan terakhirnya.
Di luar, regu tembak sudah menanti. Sebuah kamera disiapkan bukan untuk mengabadikan keadilan, melainkan untuk mengirimkan pesan teror. Namun, Pastor Pro telah jatuh cinta begitu dalam kepada Tuhannya sehingga rasa takut telah lenyap, digantikan oleh kedamaian yang tak tergoyahkan.
Pilihan di Pelayaran Eksekusi
Saat pintu sel terbuka, Pastor Pro berjalan dengan tenang. Ia tidak melawan atau memohon. Di pelataran eksekusi, ia berlutut sejenak. Dengan Rosario di satu tangan dan Salib di tangan lain, ia menolak penutup mata. Ia ingin melihat mereka yang akan mengakhiri hidupnya.
Lalu, ia melakukan tindakan yang paling mengharukan: ia memberkati para eksekutornya.
Dengan suara yang penuh iman, Pastor Pro berseru lantang: “Semoga Tuhan mengampuni Anda! Semoga Tuhan memberkati Anda! Tuhan, Engkau tahu bahwa aku tidak bersalah! Dengan segenap hati, aku mengampuni musuh-musuhku!”
Ia telah memilih. Di tengah kebencian yang mengelilingi, ia memilih pengampunan. Di tengah keputusasaan, ia memilih pengharapan.
Kebangkitan di Tengah Kematian
Berdiri tegak menghadap laras senapan, Pastor Pro merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menyerupai salib. Dan dengan suara yang menggema melintasi halaman, ia meneriakkan kalimat agung yang menjadi simbol perlawanan tanpa kekerasan:
“Viva Cristo Rey”! — Hidup Kristus Raja!
Tembakan pertama dilepaskan. Luar biasa, Pastor Pro masih bernapas. Seorang tentara kemudian mendekat dan memastikan akhir hidupnya dengan tembakan jarak dekat.
Para penguasa berpikir, foto-foto dan kisah eksekusi ini akan menjadi peringatan keras. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Keesokan harinya, kisah keberanian dan pemaafan Pastor Pro menyebar bagai api. Alih-alih ketakutan, foto-foto itu justru memicu gelombang devosi.
Meskipun misa dan ritual pemakaman Katolik dilarang, empat puluh ribu pelayat membanjiri jalanan untuk mengantarnya. Dua puluh ribu umat berkumpul di pemakaman, berdoa di tengah larangan.
Pastor Miguel Pro, yang tewas sebagai martir, telah memberikan kesaksian abadi: Cinta dan pengampunan jauh lebih kuat daripada kebencian dan kekejaman.
Kisahnya tetap menjadi inspirasi bagi siapa pun yang menderita karena iman mereka, mengingatkan bahwa keyakinan yang teguh dapat mengubah sebuah eksekusi menjadi kebangkitan spiritual yang tak terlupakan.***















